Seminar Nota Pastoral Pendidikan

Sabtu, 25 April 2015.

Seksi Pendidikan bekerjasama dengan Sentra Belajar Guru mengadakan Seminar Nota Pastoral Pendidikan sebagai bentuk sosialisasi reksa pastoral pendidikan bagi para pengajar, bertempat di Aula Bethlehem dengan nara sumber bruder Heri dan Romo Dion.

Berawal dari keprihatinan para Uskup yang merasa bahwa rasa kebangsaan dan kekatolikan di Lembaga Pendidikan Katolik (LPK) mulai menurun. Banyak dari lembaga pendidikan tersebut yang kehilangan arah serta misi visi dari sang pendiri, terlebih dengan berorientasi pada profit menjadikan lembaga-lembaga ini sebagai media bisnis.

Pada sesi awal bruder Heri menjelaskan bahwa ada 3 bentuk badan hukum penyelenggaran LPK, yaitu:
1. Yayasan
2. Perkumpulan
3. Badan

Landasan hukumnya pun dijelaskan dalam Kitab Hukum Kanonik no. 803:
1. Sekolah katolik ialah suatu sekolah yang dipimpin oleh otoritas gerejawi yang berwenang atau oleh badan hukum gerejawi publik atau yang diakui demikian oleh otoritas gerejawi melalui dokumen tertulis.

2. Pengajaran dan pendidikan di sekolah katolik harus berdasarkan asas-asas ajaran katolik; hendaknya para pengajar unggul dalam ajaran yang benar dan hidup yang baik.

3. Tiada satu sekolah pun, kendati pada kenyataannya katolik, boleh membawa nama sekolah katolik, kecuali dengan persetujuan otoritas gerejawi yang berwenang.

Inti dan ciri khas dari sebuah LPK adalah:
1. Setia mencerdaskan bangsa
2. Setia pada iman Katolik
3. Setia pada semangat dan cita-cita pendiri
4. Media pewarta kabar gembira
5. Unggul dalam pendampingan kaum muda
6. Berpihak pada yang miskin

Kendati demikian masih banyak tantangan dan persoalan dalam membangun pendidikan yang sesuai dengan iman Katolik, diantaranya:
1. LPK kurang memahami filosofi pendidikan katolik.
2. Gereja masih belum maksimal dalam memberikan reksa pastoral pendidikan
3. Kentalnya politisasi pendidikan di Indonesia
4. Manajemen LPK yang belum profesional
5. Lemahnya kualitas pendidik dalam hal kemampuan akademis, manajerial, dan kepemimpinan
6. Keterbatasan biaya penyelenggaraan pendidikan
7. Jumlah penurunan peserta didik yang signifikan tiap tahunnya.

Penting untuk dipahami bahwa pendidikan kristiani berawal dari inspirasi iman yang kemudian menjadi mediator bagi perubahan sosial. Dan pada akhirnya para peserta didik akan memiliki hidup yang bermakna, cerdas secara holistik, dan menjadi pewarta kerajaan Allah bagi sesama. (BB)