Hari Minggu Panggilan Sedunia

Pada tanggal 26 April 2015, sebagai orang Katolik, kita akan memperingati hari Minggu Panggilan seluruh dunia. Di gereja Keluarga Kudus, Rawamangun pun begitu terlihat adanya peringatan khusus dengan mengundang beberapa Suster dan Frater. Perayaan ini memang akan selalu dibuat di setiap gereja karena menanamkan benih panggilan terutama di kaum muda Katolik. Memang pada zaman modern seperti sekarang ini, terlihat bahwa hal duniawi begitu menarik untuk dibahas dibandingkan hal surgawai. Tidak terpungkiri, anak hingga kaum muda pun masih sedikit yang benar-benar terlibat aktif dalam dunia menggereja. Itulah yang mendasari bahwa hari Minggu Panggilan ingin memanggil kembali dan juga bisa menanamkan benih untuk anak hingga kaum muda ikut dalam kehidupan membiara.

                  Pada tahun ini, gereja Keluarga Kudus, Rawamangun mengadakan hari Minggu Panggilan dengan mengundang beberapa Suster dan Frater yang diawali dengan tugas koor saat perayaan misa jam 08.30 WIB. Pertama kali saya dan mungkin beberapa umat gereja menyaksikan langsung Suster dan Frater bertugas dan menyanyikan lagu dengan indah. Nuansa yang terbangun pun menjadi lebih bermakna karena terlihat dengan jelas bahwa tugas Suster dan Frater melayani umat melalui bertugas sebagai koor. Sebelum dimulai misa, penari modern mempertunjukkan keahliannya dan membuat umat terkesima. Kemudian tidak kalah menariknya, ada adik-adik yang bernyanyi di depan altar. Adik-adik yang bernyanyi membuat umat kagum karena keberanian dan bagusnya suara mereka. Acara yang berlangsung selama misa terasa begitu khidmat dengan kehadiran para biarawan biarawati yang secara langsung. Tidak lupa juga, tahun ini Misdinar Keluarga Kudus, Rawamangun beserta paguyuban orang tua menjadi petugas tata tertib. Pengalaman pertama kami sebagai tatib selain melayani langsung di altar gereja. Setelah kami membagikan tugas, kami segera memasuki gereja untuk membagikan kotak PUCI dan mendiami titik untuk menjaga keamanan di dalam gereja. Yang menjadi kekaguman lainnya saat Diakon Budi menyampaikan kotbah dengan diselingi permainan biolanya.

                  Bacaan Injil pada hari Minggu Panggilan ini dari Yohanes 10:11-18. Saat saya bertugas sebagai tatib yang berkeliling di dalam gereja, bagian injil yang saya ingat yaitu “Akulah gembala yang baik. Aku mengneal domba-domba-Ku, dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. Ada lagi pada-ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus kutuntun juga; mereka akan mendengarkan suara-Ku, dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.” Dari bagian injil tersebut, saya berpikir bahwa para biarawan-biarawati juga akan menghadapi realitas kehidupan kini. Terutama saat bertemu dengan awam dan bukan beragama Katolik. Para biarawan-biarawati menjadi gembala bagi seluruh umat terutama bagi umat Katolik. Umat Katolik akan dituntun kepada jalan Tuhan untuk mendapat keselamatan. Tanpa para biarawan dan biarawati, kita akan binasa karena tidak mengenal Tuhan. Karena di dalam Tuhanlah ada keselamatan. Kita sebagai umat Katolik pun pasti selalu mendengar bahwa tuaian banyak tetapi petugas sedikit. Itulah yang dialami dalam dunia biarawan-biarawati kini terutama dalam dunia remaja atau kaum muda.    

Hal ini bisa kita lihat saat kita menyadari masih banyak anak dan kaum muda yang lebih mengutamakan kegiatan di luar gereja, seperti lebih memilih untuk bersenang-senang dengan teman lainnya saat waktunya ke gereja. Saya sebagai kaum muda yang berada di jenjang perkuliahan pun menyadari bagaimana situasi di luar gereja. Di kampus pun masih banyak teman-teman yang lebih memilih untuk berkegiatan dan melupakan gereja. Bahkan jika saat keimanan saya terasa jenuh, kegiatan yang jauh dari kaitan gereja malah membuat semakin kita tidak merasakan kehadiran Tuhan. Saya pun harus kembali ke dalam suatu kumpulan atau komunitas yang mengingatkan saya untuk selalu dekat dengan Tuhan.

Hari Minggu Panggilan kali ini sangat terasa maknanya bagi saya terutama sebagai seorang Misdinar. Walaupun saya sudah masuk dalam kategori kaum muda, tetapi kegiatan Misdinar benar-benar memberi pelajaran kepada saya untuk menjadi terpanggil. Alasan klise bagi setiap anak Misdinar pemula menjadi Misdinar adalah untuk melayani Tuhan dan ingin lebih dekat pada-Nya. Mungkin sebagian besar anak yang mengatakan itu belum penuh kesadaran untuk menghayatinya. Tetapi terpanggil menjadi Misdinar sungguh terasa saat kita beranjak dewasa dan mulai mengkaitkan dengan kehidupan beriman pribadi.

Saat pengurus Misdinar mengadakan berbagai kegiatan terutama berkaitan dengan kehidupan membiara, hal itu sungguh berdampak. Pada awal kegiatan pertama saat melakukan Ret-Ret, iman kita dibangun dengan bantuan dari Romo-Romo yang mendampingi selama Ret-Ret. Dalam Ret-Ret pun pernah diceritakan bahwa Romo-Romo pendamping dulunya pun menjadi anggota Misdinar. Kemudian saat adanya pembinaan karakter, Romo Tarno dan Suster Auxiline juga menekankan bahwa Misdinar menjadi pupuk yang subur akan adanya panggilan Tuhan untuk membiara. Dan pada kegiatan terakhir kami ziarah rekreasi ke Yogyakarta, yang khusus mengenal berbagai panggilan Tuhan, anggota Misdinar pun semakin menanggapi panggilan Tuhan. Sudah ada beberapa calon-calon Romo dan Suster yang menanggapi panggilan Tuhan.

                  Setelah misa berlangsung, di Aula SMP Tarakanita 4 diadakan kegiatan bersama dengan para Suster dan Frater yang diselenggarakan oleh Seksi Panggilan Paroki Keluarga Kudus, Rawamangun. Kegiatan ini memberi perkenalan mengenai berbagai ordo di Indonesia untuk diketahui jika ada yang terpanggil membiara di antara teman-teman yang datang. Tahun ini pun lebih menargetkan ke anak-anak, hal ini untuk menumbuhkan benih-benih panggilan karena di usia SD inilah mampu ditanamkan nilai-nilai membiara dengan mudah. Teman-teman bergembira karena para Suster dan Frater yang menyenangkan ditambah dengan acara permainan yang banyak hadiahnya. Para Suster dan Frater pun begitu memberi kasih kepada seluruh yang datang dengan keramah-tamahannya. Acara selesai dengan memberikan hadiah bagi para pemenang dan memberi kesan begitu menggembirakan terutama pengalaman berkegiatan dengan para biarawan dan biarawati.

Melalui Hari Minggu Panggilan tahun ini, saya bisa melihat bahwa begitu indah panggilan Tuhan sendiri. Kita akan mampu mengenal jauh lebih mendalam dengan Tuhan. Terutama saat menjadi anggota dan pengurus Misdinar, kami diberi kesempatan merasakan pengalaman yang memperdalam iman sebagai pengikut Kristus. Saya pun selalu melihat kebaikan Tuhan terutama saat melayani umat melalui kegiatan Misdinar ini. Panggilan untuk menjadi pelayan Tuhan melalui Misdinar ini pun sungguh nyata dan pasti membawa berkat. Panggilan yang sudah terpupuk kini, haruslah bisa dijaga oleh setiap orang tua dan terutama Gereja. Para Romo dan Suster pun tidak akan pernah meninggalkan kita jika memang kita terpanggil untuk hidup membiara. Janganlah takut untuk menjawab panggilan-Nya, karena bagi saya sendiri panggilan-Nya begitu terasa indah dan membawa kita semakin mengenal Tuhan.

(Marcella Reina P.)